Bayangan Layar Kaca


    Seseorang secara alami mendorong dirinya untuk menjadi terlihat dari pandangan orang lain, entah akan terlihat seperti apa tidak perduli soal penafsiran lain dari orang. Semestinya menjadikan diri sendiri bisa merasakan lebih utama dari pada hanya sekedar menjadi terlihat, seperti halnya merasakan sukses bukan terlihat sukses, merasakan bahagia bukan terlihat bahagia, merasakan banyak uang bukan terihat banyak uang.  Hal-hal seperti ini yang akhirnya tertanam pada diri seseorang untuk melekat pada perilaku pencitraan, karena faktor lingkungan media sosial yang mudah memberikan apresiasi ataupun kagum terhadap sesuatu hanya sekilas dari apa yang di lihat.

    Mungkin pada jaman dulu untuk menjadi orang yang dikagumi atau banyak mendapatkan apresiasi dari orang-orang perlu usaha pendakian lebih tinggi untuk terlihat. Sebelum dia mencapai pada puncaknya, mungkin dia sudah lebih dulu terbiasa menjadi orang yang nyata seperti apa yang orang lihat, bukan hanya sekedar bayangan yang kemudian menghilang dalam pandangan kegelapan. Tetapi pada masakini mudah untuk merubah-ubah pandangan seseorang melihat, dengan mengumpulkan banyak pengikut, sekali posting maka semua orang akan memandang dia sesuai pandangan layar kaca, tidak perlu terbiasa, dia seperti bayangan yang jika tidak tertangkap cahaya akan menghilang.

    Tidak disalahkan untuk seseorang yang menjadi banyak dikagumi hanya dengan media sosial, karena dia tidak meminta orang lain untuk mengagumi walau dia ingin dikagumi, yang salah adalah kamu yang membuat orang seperti dia marak memenuhi layar kaca, dan pada akhirnya arah pertumbuhan tontonan layar kaca menjadi penuh dengan sampah-sampah bayangan. Hentikan populasi orang-orang yang populer karena menjadi bayangan layar kaca, menampakan kepura-puraan dan pencitraan.

Komentar