Pendengar yang baik tidak akan menjadi Pemaksa
Memberi nasihat kepada seseorang yang sedang jatuh cinta memang sulit, seperti jiwanya telah terganggu, sehingga sulit untuk berpikir waras baginya untuk membuat sebuah keputusan. Baginyaa hanyaa ada perasaan-perasaan yang tidak mungkin sanggup baginya untuk diterima, dilupakan, dan tidak sanggup baginya untuk tersakiti. Mungkin bukannya tidak sanggup untuk tersakiti, tetapi bahkan selama dia bertahan sudah sering sekali baginya harus menerima rasa sakit.
Mungkin diantara kita sudah sering menerima keluh kesah curhatan hati terkait perasaan-perasaan seseorang yang sedang tersakiti oleh pasangan, atau bahkan seseorang yang diharapkan untuk menjadi pasangan baginya. Setelah mendengar, mungkin dalam lubuk hati paling dalam ada satu kata yang ingin sekali kita ucapkan, yaitu kata “bodoh”. Bagaimana tidak, jika ada seseorang yang mau tetap bertahan walau tersakiti, padahal masih ada pilihan lain untuk meninggalkan.
Begitulah jika masalah perasaan diselesaikan dengan pemikiran, tidak akan bertemu pada titik yang tidak beresiko. Bagi kita sebagai pendengar mungkin menyelesaikannya dengan pemikiran yang logis tidak akan menyebabkan resiko berkepanjangan, seperti sakit hati berkepanjangan, penyesalan, atau bahkan sampai depresi. Tapi itu akan menjadi hal yang bertolak belakang dengan dia yang mengalaminya secara langsung, apalagi ini persoalan perasaan yang dimana masalah-masalah seperti sakit hati berkepanjangan, penyesalan, dan depresi adalah masalah yang menyerang sisi hati yang membuatnya terguncang.
Sebagai pendengar yang baik seharusnya kita bisa menjadi sisi penyeimbang dan pelengkap baginya, jika dia punya perasaan yang diutamakan dalam memandang masalahnya, maka kita harus bisa menjadi pemikir baginya, tetapi tidak juga memaksa untuk membuatnya patuh akan saran yang kita berikan. Biarkan dia merasakan sendiri apapun keputusan yang dia ambil, tidak peduli bahwa anggapan kita bahwa keputusan itu adalah hal yang bodoh, tapi dengan keputusannya sendiri setidaknya dia tidak akan lebih menyesal jika harus merasa sakit.
Jika dia berjuang menaklukan rasa sakit, maka kita sebagai pendengar yang baik harus berjuang dengan rasa sabar untuk tidak bosan memberikannya pemikiran-pemikiran yang baik sebagai pelengkap dirinya. Kalau kitapun sulit untuk menjadi sabar ketika hanya menjadi pendengar, bagaimana dia yang merasakan hal itu secara langsung? Lebih menyulitkan bukan baginya?.
Hal yang permah aku alami ketika memaksa diri untuk memutuskan masalah dengan saran dari pendengan. Pada saat itu aku tidak berfikir bahwa apa yang dia sarankan hanya sebatas opsi yang nanti keputusannya tidak dirasakan olehnya, melainkan aku sendiri. Karena tekanan dari pendengar aku yang tidak seharusnya dia melakukan itu, dan akhirnya aku melimpahkan keputsan aku ditangannya, dan berujung penyesalan. Ini adalah contoh pendengar yang buruk bagi aku, dan aku tidak ingin menjadikannya sebagai pendengar bagi aku.
Menjengkalkan rasanya jika sudah ditekan oleh perasaan dan kemudian mendapatkan tekanan dari pendengar sebagai saran dari pemikiran yang tidak berperasaan, seperti ingin berkata bahwa yang sebenarnya kita butuhkan hanya sekedar di dengarkan bukan di nasihati. Namun dengan seringnya aku menjadi pendengar bagi orang-orang membuat aku berfikir bahwa ketika kelak aku jatuh cinta kembali aku ingin mencintai seseorang dengan sepenuh kesadaran akal, agar ketika aku di hempaskan oleh dirinya dalam jurang patah hati, aku masih tetap waras menerima kenyatan.
Komentar
Posting Komentar